Kamis, 11 Oktober 2012

[Kauniyah] Gunting Canggih Semut Pemakan Daun

semut


Marilah kita melihat sebuah koloni semut petani jamur. Koloni semut ini memperoleh makanan dengan cara bertani jamur di dalam sarangnya. Jamur-jamur ditumbuhkan dari daun-daun yang diambil dari pepohonan di luar sarang. Nah, salah satu anggota koloni dari semut ini adalah semut pemotong daun. Semut ini bertugas memotong daun menjadi berukuran lebih kecil agar mudah diangkut ke sarang. Mereka memotong daun menggunakan rahang-rahangnya yang kuat.

Sekilas, mungkin tampak tak istimewa. Tapi coba kita bandingkan dengan ilustrasi seperti ini. Jika semut diibaratkan manusia, maka daun yang mereka potong adalah lapisan baja yang amat tebal. Dan lempengan baja ini mereka potong tanpa alat, hanya menggunakan sepasang rahangnya. Luar biasa, kan?

Lebih menakjubkan lagi jika kita tahu desain rahang-rahang semut tersebut. Desain rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong ini sangatlah canggih. Terdiri atas dua bilah pisau yang terbalut lapisan seng sehingga menjadikannya sangat tajam. Cara pemotongannya sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala semut membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.

Tentu saja semut tak pernah tahu jika ada bahan baku yang bernama seng. Bahkan mereka tidak pernah tahu kalau pisaunya terbalut lapisan seng. Semut juga sama sekali tidak tahu jika mereka mampu mengeluarkan frekuensi tinggi yang menjadikan daun lebih rapuh sehingga mudah dipotong.

Lalu darimana mereka mendapatkannya? Hanya ada satu penjelasan bagi keberadaan alat potong yang sempurna ini. Perangkat ini sengaja diciptakan. Semut telah diciptakan oleh Allah; dan teknik pemotongan daun serta segala keahlian mereka yang lain adalah pemberian-Nya. Semut hanya menjalankan apa yang telah diilhamkan Allah padanya.

"Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?" (QS. Al An'aam: 80)

Sumber: Majalah Ar-Risalah no. 112/Vol. X/04 Syawal - Dzhulqa'dah 1431 H / Oktober 2010, hal. 57.

Baca juga:

1 komentar: