Selasa, 20 November 2012

Begini Cara Kerja Kursi Lontar Pada Pesawat


Pada umumnya, pesawat tempur didesain memiliki kursi pelontar (ejection seat) yang berfungsi untuk menyelamatkan pilot saat terjadi kecelakaan atau juga dalam situasi sulit yang terjadi di pesawat.

Sampai saat ini, penggunaan kursi lontar masih didominasi pesawat tempur. Sementara untuk pesawat helikopter, penggunaan masih terbatas pada helikopter Kamov Ka-50 Hokum dengan kursi lontar Zvesda-K-37-800.

Keterbatasan penggunaan kursi lontar pada helikopter dikarenakan bobot kursi lontar yang umumnya pada kisaran 90 kilogram. Selain itu, baling-baling rotor helikopter juga menyulitkan proses pelepasan kursi lontar. Di samping itu, otorotasi tidak bisa dilaksanakan jika terbang berada pada ketinggian di bawah 300 meter, sedangkan helikopter umumnya terbang sangat rendah.

Untuk pesawat sipil, kursi lontar belum dapat diterapkan. Selain karena teknologinya, juga mempertimbangkan faktor keselamatan, mengingat penggunaan kursi lontar dapat membahayakan penggunanya bila dilakukan tidak tepat.

Kursi Lontar Pertama

Penemuan kursi lontar berawal dari upaya penyelamatan penerbang, baik pada masa damai maupun pada masa perang. Hal ini disebabkan karena penerbang, khususnya yang sudah cukup andal, adalah aset dalam sebuah angkatan udara dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadikannya sebuah penerbang yang berpengalaman.

Beberapa angkatan bersenjata di dunia, khususnya yang cukup berpengalaman, memiliki prosedur yang baik dalam manajemen penyelamatan. Disebut-sebut Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) dan Royal Air Force Inggris dalam Perang Dunia II, memiliki manajemen penyalamatan penerbang yang cukup baik.


Pada umumnya, setiap penerbang dilengkapi dengan parasut yang bekerja cukup baik. Namun ketika pesawat tempur dirancang semakin gesit, penerbang sukar untuk menyelematkan dirinya ketika pesawat tersebut rusak, terutama ketika terkena tembakan lawan. Penerbang baru bisa keluar setelah berusaha dengan susah payah membuka pintu kokpit pesawat selama beberapa puluh detik. Meski berhasil, adakalanya penerbang mengalami nahas terkena hantaman ekor pesawat ketika berusaha keluar dari kursinya melawan arus angin.

Langkah yang dilakukan umumnya, pilot menukikkan pesawat, membuka kokpit dan melepas sabuknya, lalu melepaskan tongkat kemudi. Adakalanya penerbang langsung meloncat dari pesawat yang mengalami kerusakan atau terkena tembakan.

Tercatat pada bulan Januari 1942, Letnan Chisov dari Angkatan Udara Uni Soviet meloncat dari pesawat Ilyushin II-A yang rusak berat dengan ketinggian 6700 meter. Dia mengalami patah pada bagian pinggul dan cedera pada tulang punggung. Sementara Sersan Alkemande dari Royal Air Force mengalami keberuntungan ketika meloncat dari pesawat Pembom Lanchaster yang terbakar pada ketinggian 5500 meter pada bulan Maret 1944. Karena tertahan pohon pinus dan jatuh pada lapisan es setebal 40 sentimeter, Alkemande hanya mengalami benjol dan tergores.

Kursi lontar pertama diterapkan pada pesawat Heinkel He-119. Kursi lontar ini ditekan oleh udara. Pesawat ini memang populer pada penerbangan uji coba, namun karena jumlahnya sedikit, prestasi kursi lontarnya tidak diketahui.

James Martin dari Inggris merancang sistem pengaman yang lain. Dalam konsepnya, pilot dilontarkan keluar kokpit oleh lengan panjang yang digerakkan oleh pegas yang dipasangkan pada harnas parasutnya.

Mekanisme ini cocok untuk dipasang pada pesawat Spitfire dan Hurricanes, tapi tidak cocok untuk pesawat modern. Pesawat Jet mengharuskan daya lontar besar sehingga Martin memilih mekanisme dengan menggunakan dinamit.

Peluncuran kursi lontar pertama, tercatat pada tanggal 24 Juli 1946, oleh Bernard Linch, salah seorang karyawan Martin-Baker. Linch dilontarkan secara sukarela dengan kursi lontarnya pada ketinggian 2600 meter dengan kecepatan 253 km/jam dari pesawat tempur Gloster Meteor. Sejak itu, kursi lontar Martin-Baker menjadi populer di seluruh
dunia
.

Prinsip Kerja Kursi Lontar Pesawat Tempur

Kursi lontar pesawat terbang ini didesain untuk bisa digunakan melontarkan pilot pada ketinggian dan kecepatan nol, artinya kursi lontar bisa diaktifkan saat pesawat dalam keadaan diam di darat sampai kecepatan 600 knot dengan ketinggian sampai 50.000 kaki. Kursi lontar pesawat tempur ini bisa di operasikan dengan tiga tipe kecepatan dan ketinggian saat pesawat mengudara.

Metode pertama untuk kecepatan dan ketinggian rendah. Pada metode ini kursi lontar bisa melontarkan pilot pada kecepatan pesawat kurang dari 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki.

Metode kedua untuk kecepatan dan ketinggian sedang. Pada metode ini kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian kurang 15.000 kaki.

Metode ketiga untuk kecepatan pesawat lebih 250 knot dan ketinggian lebih dari 15.000 kaki.

Proses Meninggalkan Pesawat (bail out) dengan Kursi Lontar

Pilot menarik tuas untuk melepaskan kursi lontar kemudian secara otomatis kanopi pesawat akan terbuka, catapult mendorong kursi lontar pada posisi nya. 0,15 detik kemudian setelah kursi dilontarkan dengan keepatan 15 m/dt (50 kaki) semua peralatan pendorong akan menyala (waktu yang dibutuhkan 0,10 detik).

Setengah detik kemudian kursi lontar telah mencapai ketinggian 100 sampai 200 kaki dari posisi awal. Kemudian peralatan pendorong terpisah dari pilot. Dua setengah detik kemudian parasut utama akan mengembang dan pilot pun mendarat dengan selamat.

Bagian-bagian Kursi Lontar Pesawat Terbang


Sesuai fungsinya kursi pelontar berguna untuk menyelamatkan pilot baik dari kecelakaan pesawat terbang maupun dari sergapan musuh setelah pilot mendarat, untuk itu kursi lontar dilengkapi berbagai pelengkapan sebagai berikut:

- Tas survival kit terletak di bagian bawah diduduki oleh pilot

- Senor lingkungan berfungsi untuk mencatat kecepatan udara dan ketinggian dari kursi lontar

- Vernier rocket berfungsi untuk mengatur keseimbangan kursi lontar, alat ini di pasang giroskop

- Parasut

- Botol oksigen darurat

- Tirai pelindung muka yang berguna untuk melindungi kepala pilot selama proses ejection

- Sabuk pengaman

- Perekam data

- Underseat rocket, roket yang diletakan di bawah kursi lontar berfungsi menambah gaya angkat setelah catapult mengangkat pilot keluar kokpit.

Kursi lontar modern mempunyai motor dengan waktu pelontaran yang lebih lama dan percepatan rendah sehingga efek negatif yang terjadi pada tubuh pilot dapat diperkecil. Pengaktifan kursi lontar ini menggunakan motor roket yang disebabkan oleh adanya gaya aksi dan gaya reaksi, seperti yang di jelaskan pada hukum III newton. Gaya reaksi udara terhadap gas yang di lontarkan oleh motor roket dengan kecepatan tinggi, mempercepat gerak kursi dalam arah yang berlawanan.

Jadi, pilot dapat meraih ketinggian yang di perlukan untuk membuka payung parasutnya dan juga ia dapat selamat dari cedera yang ditimbulkan oleh gerak dengan percepatan yang tinggi dan secara tiba-tiba.

Sumber: Blog Catatan Kecil

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar