Sabtu, 21 Juni 2014

4 Tradisi Bid'ah Menyambut Ramadhan di Indonesia


Dalam keseharian bangsa kita sangat erat dengan budaya tradisi nenek moyang. Sayangnya, seringkali tradisi ini bertabrakan dengan norma-norma keagamaan. Dengan dalih melestarikan dan menjunjung tinggi tradisi, syariat pun akhirnya dikebiri.

Beberapa diantaranya adalah tradisi-tradisi yang dilakukan masyarakat menyambut datangnya bulan Ramadhan yang sarat akan penyimpangan terhadap syariat. Apa saja? Berikut uraiannya.

1. Padusan

Padusan yaitu ritual pembersihan diri dengan cara mandi keramas bersama-sama di pemandian umum, sungai, telaga ataupun mata air tertentu. Mereka melakukannya dengan berniat membersihkan diri baik lahir maupun batin agar memasuki Ramadhan nanti dalam keadaan suci. Tak jarang mereka mandi dengan pakaian minim bahkan telanjang bulat tanpa malu-malu padahal di sekitar mereka berbaur lawan jenis tua dan muda.

Ditinjau dari sisi syariat amalan ini memiliki beberapa penyimpangan, antara lain:

- Melakukan kebid'ahan, yaitu mengamalkan sesuatu yang tidak ada perintahnya dari Rasulullah. Tidak dijumpai dalil shahih menyatakan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat melakukan amalan ini.

- Kadang disertai keyakinan khurafat dan mengarah kepada kesyirikan, misalnya meyakini bahwa ritual ini akan afdhal bila dilakukan di tempat-tempat wingit atau angker atau tempat yang (katanya) bertuah.

- Membuka dan mempertontonkan aurat di depan umum yang justru diharamkan dalam agama, bahkan tak jarang akibatnya mengantarkan kepada perzinaan.

- Membuang-buang harta, yaitu dengan mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan jauh demi ritual yang sebenarnya tidak diperintahkan oleh agama.

Ritual ini tak hanya dikenal oleh masyarakat Jawa saja, namun masyarakat Padang pun melakukan hal serupa yang mereka namakan Balimau.

2. Megengan

Di beberapa daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah ada dikenal istilah tradisi megengan, yaitu kendurian dengan memotong ayam atau kambing sehari sebelum masuk bulan Ramadhan dengan tujuan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sedekah untuk fakir miskin. Tradisi ini juga dilakukan masyarakat Aceh dengan nama meugang.

Tradisi ini dalam prakteknya mengandung banyak kemungkaran, antara lain:

- Meyakini bila tidak mengerjakannya akan mendatangkan bala. Dan ini adalah amalan khurafat yang dilarang dalam agama Islam.

- Bersyukur kepada Allah dan bersedekah sangat dianjurkan dalam Islam. Namun Islam tidak memberi persyaratan harus dengan menyembelih binatang dan dilakukan pada akhir bulan Sya'ban. Ini merupakan amalan bid'ah yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah dan para shahabat.

- Pada hari pelaksanaan setiap keluarga membuat kendurian untuk dibagikan ke sanak kerabat dan para tetangga. Akhirnya banyak makanan yang tak dimakan dan terbuang percuma karena masing-masing keluarga telah membuat makanan serupa. Ini merupakan tindakan tabdzir, yaitu pemborosan harta yang dilarang oleh Islam.

- Terkadang agar tidak dikucilkan atau demi melestarikan tradisi ini keluarga yang miskin pun rela berhutang agar bisa menyembelih untuk kendurian, dan hal ini adalah termasuk takalluf, memberat-beratkan diri yang dilarang.

3. Bermaaf-maafan

Di masyarakat kita berkembang tradisi bermaaf-maafan pada hari terakhir bulan Sya`ban, dengan tujuan memasuki bulan suci Ramadhan dalam keadaan kosong, yaitu bersih dari segala dosa dan kesalahan kepada sesama manusia. Mereka berkunjung ke sanak saudara maupun sekedar berkirim sms untuk saling bermaafan.

Meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama muslim adalah hal yang diperintahkan dalam Islam. Namun meyakini tradisi maaf-maafan sebagai ritual yang mesti dilakukan sehari sebelum tiba bulan Ramadhan demi menggapai kesempurnaan ibadah di bulan suci Ramadhan adalah keyakinan yang keliru dan mempersempit keluasan ajaran Islam. Tidak ada hadits shahih yang menjelaskan amalan ini.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk meminta ampunan kepada Allah dan meminta maaf kepada sesama manusia setiap kali melakukan sebuah dosa dan kesalahan, tanpa perlu ditunda-tunda. Makin cepat makin baik, sebab boleh jadi kita lupa, sakit, atau mati sebelum sempat meminta ampunan dan maaf. Akibatnya, kita mati dengan membawa dosa kezaliman. Maka tidak selayaknya kita menabung dosa dan kesalahan selama satu tahun penuh, lalu baru meminta ampunan Allah dan maaf manusia pada hari terakhir bulan Sya`ban atau hari Idul fithri.

Silakan baca keterangan seputar amalan ini di artikel: Adakah Tuntunan Saling Meminta Maaf Sebelum Memasuki Ramadhan?

4. Nyadran

Nyadran, tradisi yang biasa dilakukan menjelang bulan puasa. Tradisi berziarah ke makam leluhur ini sudah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa sejak zaman dahulu hingga sekarang. Nyadran atau sadranan berasal dari bahasa Jawa yang artinya berziarah. Pada mulanya nyadran dilakukan ke makam tokoh masyarakat yang sangat dihormati maupun nenek moyang keturunannya. Namun kini, beberapa masyarakat hanya berziarah ke makam famili atau sanak saudaranya.

Acara nyadran dilakukan secara bersama-sama masyarakat desa. Diawali pembersihan areal pemakaman dilanjutkan pembacaan tahlilan dan doa bersama, kemudian diakhiri acara makan bersama. Dalam masyarakat yang masih kental kejawennya, biasanya disertakan pula pembakaran kemenyan dan sesajen berupa bunga dan makanan tertentu.

Tak diragukan lagi bahwa berziarah ke kuburan orang tua dan kerabat termasuk ajaran Islam. Islam menganjurkan umatnya untuk banyak-banyak mengingat kematian. Dan ziarah kubur merupakan sarana yang efektif untuk mengingat kehidupan akhirat. Namun berziarah kubur hendaknya sesuai dengan adab yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Tradisi sadranan memiliki penyimpangan dari sisi syariat, antara lain:

- Merupakan amalan bid'ah, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah.

- Membacakan Al-Qur'an di kuburan adalah hal yang dilarang dalam syariat.

- Bisa menjerumuskan seseorang pada kesyirikan yaitu dengan meyakini kemenyan dan sesajen yang dibawanya akan mendatangkan keselamatan.

Demikianlah empat tradisi menyambut Ramadhan yang sering dilakukan masyarakat yang tidak ada contohnya dari syariat.

Akhirnya, marikah kita menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan jiwa yang suci, jasmani yang sehat dan bersih, dan perasaan gembira karena ini adalah bagian dari keimanan dan keislaman. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32)

Namun sudah selayaknya tata cara penyambutan Ramadhan dilakukan sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Bukan hanya dengan mengikuti tradisi, budaya, atau latah mengikuti prilaku kebanyakan manusia yang sebenarnya tidak mengenal ajaran Islam dengan baik. Hendaknya kita benar-benar mengetahui langkah-langkah persiapan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga kita bisa melaksanakannya sehingga tidak terjebak dalam arus tradisi yang populer namun kurang tepat di mata syariat.

[Diringkas dari "SAMBUT RAMADHAN, JANGAN TERJEBAK TRADISI" yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI - Kantor Wilayah Riau]

Follow twitter @fadhlihsan untuk mendapatkan update artikel blog ini.



Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar