Sabtu, 03 Maret 2012

Rahasia Penciptaan Pohon Kurma dan 10 Bentuk Kemiripannya dengan Orang Mukmin


Cobalah perhatikan pohon kurma yang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala. Engkau dapat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat luar biasa dan membuatmu takjub.

Allah telah menetapkan bahwa di antara pohon kurma itu ada yang betina dan butuh dibuahi, maka Allah menciptakan pohon jantan sebagai pasangannya yang akan membuahinya. Sebagaimana halnya makhluk hidup yang saling berpasangan.

Oleh sebab itulah pohon ini sangat mirip dengan manusia daripada pohon-pohon lainnya. Khususnya dengan orang mukmin sebagaimana perumpamaan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits beliau. Kemiripan itu dapat kita lihat dari beberapa sisi:

Pertama: Keteguhan dan kekokohan akarnya tertancap di bumi, tidak seperti pohon-pohon lainnya yang tercabut akarnya dari perbukaan bumi dan tidak dapat tegak sedikitpun.

Kedua: Buahnya yang manis dan lezat dan khasiatnya yang sangat banyak. Demikian pula seorang mukmin, baik ucapannya dan banyak gunanya.

Ketiga: Pakaian dan perhiasannya yang selalu tampak, baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin yang selalu mengenakan pakaian ketakwaan.

Keempat: Mudah mengambil dan memetik buahnya. Pohonnya yang pendek tidaklah menyulitkan orang yang ingin
mengambilnya, ia dapat diraihnya tanpa harus memanjat. Adapun batangnya mudah dipanjat dibandingkan pohon-pohon lain yang tinggi batangnya. Demikianlah seorang mukmin, kebaikannya mudah didapat dan sangat dekat bagi orang yang mencarinya, ia bukanlah orang yang penuh tipu daya lagi jahat.

Kelima: Buahnya merupakan buah yang paling bermanfaat di alam ini. Buahnya yang masih segar dimakan sebagai buah dan manisan. Dan yang sudah dikeringkan dapat dijadikan sebagai bahan makanan pokok, lauk dan buah. Dapat pula dijadikan sebagai obat dan minuman serta khasiat-khasiat lainnya.

Keenam: Pohon kurma merupakan pohon yang paling teguh menghadapi terpaan angin dan badai. Demikianlah seorang mukmin yang selalu tabah dan sabar dalam menghadapi musibah dan bala', tidak mudah tergoyahkan oleh angin.

Ketujuh: Pohon kurma seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Tidak ada satupun yang terbuang percuma. Buahnya sangat berguna, batangnya dapat dijadikan sebagai ruas, pelepahnya dapat dijadikan sebagai atap rumah untuk menggantikan kayu dan untuk menutupi celah dan lubang. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan keranjang, bakul, berbagai macam alat rumah tangga, tikar dan lain-lain. Sabutnya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan yang sudah dikenal luas oleh manusia. Seorang mukmin memiliki karakter yang sama dengan karakter pohon kurma tersebut. Sampai-sampai duri yang terdapat pada pohon kurma ibarat ketegaran seorang mukmin dalam menghadapi musuh-musuh Allah dan orang fasik. Dan seorang mukmin itu memiliki sifat lembut seperti manis dan lembutnya buah kurma yang masih segar.

Kedelapan: Semakin panjang umurnya semakin banyak gunanya dan semakin baik buahnya. Demikianlah seorang mukmin, semakin panjang umurnya, akan semakin baik dan shalih pulalah amalnya.

Kesembilan: Jantung pohon kurma merupakan jantung pohon yang paling baik dan paling manis. Hal ini merupakan
keistimewaan pohon kurma yang tidak dimiliki oleh pohon-pohon lainnya. Demikianlah hati seorang mukmin, merupakan sebaik-baik hati manusia.

Kesepuluh: Kegunaannya tidaklah habis sama sekali. Jika salah satu manfaatnya telah habis maka masih banyak lagi manfaat-manfaat lainnya. Demikianlah seorang mukmin yang tidak pernah kering dari amal-amal kebaikan. Jika salah satu sisi kekeringan maka sisi yang lain pasti subur. Kebaikannya selalu diharapkan dan kejelekannya selalu terjaga.

Penjelasan tentang masalah ini tentu sangat panjang sekali. Cukuplah kiranya engkau perhatikan baik-baik bentuk pohon kurama, mulai dari batangnya, pelepahnya sampai daunnya!

Sumber: Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin (penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Sya'ban 1423 H / Oktober 2002 M, hal. 137-139.

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar