Kamis, 11 Juli 2013

Hal-Hal Agama yang Sering Diremehin Padahal Penting Buat Kehidupan Kamu (Bag. 2)


Nah kita lanjut ke bagian kedua dari tulisan tentang Hal-Hal Agama yang Sering Diremehin Padahal Penting Banget Buat Kehidupan Kamu. Kali ini masih ada soal makan minumnya yang mungkin kamu lakuin sehari-hari tapi ternyata.. Ups, salaaah!!

Meniup makanan dan minuman panas

Soal makan minum ini emang banyak aturannya, jadi kalo kamu males belajar agama berarti banyak banget pahala yang bakal luput dari kamu. Kali ini ada larangan menyantap dan niup-niup makanan atau minuman yang panas (yang beruap gitu) pake mulut. Kenapa? Yee mulut kamu kan bau, bisa nyebarin bakteri tuh ke makanan tadi. Eh bukan itu alasan utamanya deng, tapi ya emang syariat yang ngelarang, nah hikmahnya mungkin salah satunya itu.

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu menuturkan, “Bahwasanya Nabi shallallaahu 'alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya.” [1]

Asma’ bintu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma apabila dibawakan tsarid kepada beliau, beliau menyuruh menutupnya sehingga hilang panasnya yang sangat dan asapnya. Dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hal ini akan menyebabkan barakah lebih banyak.” [2]

Ooh, ternyata biar barakahnya juga lebih banyak. Terus apa harus nunggu sampe lumutan biar adem gitu?? Eh, kan bisa dikipasin, masak sih abad ginian nggak ada alat canggih di tempat kamu. Tapi kalo adem kan nggak enak suka bikin kembung?? Tenaang, pokoknya uapnya biar ilang dulu abis itu silakan dinikmati. (Ingat, pake tangan kanan lo yaa!) Lagian emang mau kalo lidah kamu melepuh gara-gara makanan panas??

Peratiin juga gelas sama piringnya, liat-liat apa retak-retak mau pecah gitu. Kalo iya, ganti aja sama yang masih mulus daripada bahayain pencernaan kamu nantinya.

Dari Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum dari bagian yang retak dari sebuah gelas, dan melarang meniup di dalam minuman.” [3]

Ngagetin orang

Ini buat kamu yang hobi becanda kudu banget ingat, kalo ngagetin orang itu nggak boleh. Wuih, nggak asik dong!! Eh, kalo orang itu jantungan terus dimasukin UGD kamu siap ngongkosin?? Terus kalo akhirnya mati, kamu nggak kasian keluarganya? Kalo keluarga nggak terima trus nuntut kamu, terus kamu dimasukin penjara gimana?? Asik gitu??

Dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata: Telah bercerita kepada kami para sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasannya mereka ketika sedang bepergian bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba seseorang diantara mereka tertidur, maka seseorang yang lainnya diantara mereka pergi dan mengambil tali yang ada padanya, maka terperanjatlah ia, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Tidak halal bagi seorang muslim mengagetkan atau meresahkan perasaan seorang muslim yang lain." [4]

Selain ngagetin, kamu juga nggak boleh nakut-nakutin orang dan nyembunyiin barang orang walau niat kamu cuma bercanda doang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” [5]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya.” [6]

Jadi kalo mau becanda itu ya yang cerdas gitu lo jangan yang kampungan yang bikin teman nanti sengsara!

Ngelawak

Niatnya sih biar cair gitu ya suasana jadi nggak serius-serius amat terus kamu ngarang cerita lucu biar yang denger pada ketawa, tapi cerita kamu itu sih ngibul doang aslinya. Ini juga nggak boleh. Beda kalo ceritanya nyata, ini sih nggak papa. Lagian kalo jadi orang seriusan mulu kasian juga kan temen-temen pada nggak punya hiburan. Yep, jadi yang penting nggak boong aja gitu!

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” [7]

Ngeboongi anak kecil

Paling enak siy ya ngibul sama anak kecil. Kamu crita apa aja dia pasti percaya. Tapi boong itu kan dosa biar juga sama anak kecil. Terus juga dengan begitu kamu brati ngasi kursus gratis buat anak kecil buat boong. Dosanya berlipet-lipet loh.. Entar kalo jadi kebiasaan malah dapet cap pembohong lagi sama masyarakat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada api Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” [8]

Na'udzubillahi min dzalik yaa..

Ngupil di masjid

Boleh aja sih, cuma kamu harus tahu hal-hal yang membedakan antara ngupil di masjid sama di rumah. Di masjid, kamu nggak boleh seenaknya meperin upil di tembok atau nyembunyiin di bawah karpet kayak kalo di rumah. Kalo di rumah sih kamu bebas aja mau menuhi tembok kamar kamu atau meperin di bawah meja. Masjid itu tempat ibadah jadi harus dijaga kesuciannya. Menurut kamu sih kecil ya item lagi, tapi upil itu tetap aja kotor lagi jorok. Jadi kalo kamu di masjid tahan diri lah dari ngupil. Kalo darurat mau nggak mau harus ngupil ya setelahnya buang di luar atau kalo males ya kamu kantongi aja di saku baju. Apa?? Kamu jijik?? Tuh kamu sendiri ngerasa jijik, kok tega-teganya sih mau buang upil di rumah Allah??!

Eh, perasaan dari artikel ke satu sampai yang ini kok isinya larangan mulu yaa, semuanya nggak boleh? Iyalah, wong itu aja juga kamu masih sering lakuin kan?? Makanya sekarang kamu jadi tau kalo apa yang kamu suka lakuin itu ternyata nggak boleh. Sebenernya sih masih banyak lagi, eh, ada yang mau nambahin nggak??!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Footnote:
[1] HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani.

[2] Dikeluarkan oleh Al-Imam Ad-Darimi, 2/100; Ibnu Hibban (no.1344); Al-Imam Al-Hakim 4/118; Ibnu Abid Dunya di dalam kita Al-Ju’, 14/2 dan Al-Baihaqi, 7/280 dari jalan Qurrah bin Abdurrahman dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari Asma’ bintu Abu Bakr, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Ahadits Ash-Shahihah no. 392 dan di dalam kitab Al-Irwa’ pada penjelasan hadits no. 1978.

[3] HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Dha’if Sunan Abi Dawud.

[4] HR. Abu Daud dan Ahmad.

[5] HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no. 7659.

[6] HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’.

[7] HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al-Jami’.

[8] Shahih. Diriwayatkan oleh imam Muslim no. 6586.


Follow twitter @fadhlihsan untuk mendapatkan update artikel blog ini.



Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar