Sabtu, 13 Juli 2013

5 Tradisi Khurafat yang Berhubungan dengan Telur


Tak jarang sebuah tradisi yang sudah ada turun temurun digelar dengan kepercayaan siapa yang menjalaninya akan mendapatkan keberkahan atau keberuntungan. Sayangnya, keyakinan ini tidak dibangun di atas wahyu Ilahi melainkan hanya berdasar cerita orang-orang terdahulu yang tak jelas asal dan kebenarannya. Inilah yang dinamakan khurafat. Berikut adalah tradisi khurafat yang berhubungan dengan telur dan beredar di masyarakat.

1. Telur Paskah


Paskah, perayaan kaum kristiani untuk memperingati kenaikan Yesus Kristus ini sudah identik dengan telur warna-warni. Dalam agama kristen, telur menyimbolkan makam batu, yaitu tempat dimana Yesus dibangkitkan dari kematiannya menuju kehidupan baru. Pada hari itu mereka bergembira dan saling menghadiahkan telur yang dicat warna-warni kepada sesamanya. Melalui telur-telur itu mereka pun mengharapkan berkat (berkah).

Namun tahukah anda, bahwa tradisi menghadiahkan telur ini bukanlah ajaran asli dari kristen. Tradisi ini diambil dari orang-orang persia oleh para pendeta gereja pada abad-abad awal kekristenan.

Orang-orang persia pada masa itu selalu merayakan datangnya musim semi dengan bergembira dan saling menghadiahkan telur. Telur dipilih karena sebagai simbol kehidupan atau kesuburan sebagaimana musim semi, dimana saat itu tumbuhan akan mengeluarkan tunas baru dan bunga-bunga bermekaran.

Secara kebetulan perayaan paskah jatuh pada waktu yang sama di awal musim semi. Pihak gereja pun memutuskan menggabungkan dua perayaan tadi, karena merasa tidak mampu menghapus tradisi sebelumnya dari orang-orang persia. Akhirnya mereka pun merayakan paskah sekaligus musim semi dengan telur-telur tersebut.

Catatan: sebagai informasi, bahwa orang-orang persia jaman dulu kebanyakan beragama majusi (zoroaster), mereka adalah para penyembah api.

2. Telur Merah


Untuk merayakan bayi menginjak usia satu bulan, biasanya masyarakat Tionghoa akan mengadakan jamuan makan di rumah dan membagi-bagikan telur yang diwarnai merah kepada tamu-tamu yang hadir.

Dalam kebudayaan Tionghoa, telur merah memiliki makna filosofis. Telur menyimbolkan kehidupan sementara warna merah adalah warna keberuntungan bagi orang Cina. Sehingga dari acara ini mereka berharap agar kelak kehidupan bayi selalu diwarnai keberuntungan.

Tradisi ini sudah ada sejak lama. Konon, pada masa dahulu sebelum ilmu medis berkembang seperti jaman sekarang, banyak bayi-bayi yang lahir namun tak berusia lama. Sehingga bila seorang bayi hidup menginjak usia satu bulan, keluarganya akan merasa bersyukur sekali kemudian merayakannya dengan acara tersebut. Untuk bayi laki-laki maka telur yang dibagikan berjumlah ganjil, sedang bayi perempuan berjumlah genap.

3. Telur Peh Cun


Selain tradisi telur merah, masyarakat Tionghoa juga memiliki perayaan lainnya yang berkaitan dengan telur, yaitu Peh Cun. Perayaan ini sudah digelar sejak ribuan tahun yang lalu untuk menghormati kepahlawanan Khut Gwam (literatur lain mengatakan Qu Yuan), seorang perdana menteri saat dinasti Han berkuasa. Peh Cun dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan ke 5 dalam penanggalan imlek.

Acara ini telah menarik minat banyak masyarakat umum, karena diyakini pada tepat tengah hari itu seseorang bisa dengan mudah mendirikan sebutir telur tanpa bantuan apapun. Hal ini terjadi dikarenakan ketika itu orbit matahari, bumi dan bulan sedang sejajar.

Meski banyak yang meyakini kalau gravitasi matahari juga berpengaruh atas berdirinya telur, namun faktanya tidak semua orang mampu melakukannya. Dari sini ada anggapan, siapa yang bisa mendirikan telur saat hari Peh Cun maka ia akan mendapatkan berkah tersendiri.

4. Telur Maulid


Di sebagian wilayah nusantara, maulid nabi dirayakan dengan mengarak gunungan telur yang dihiasi dan diberi buah-buahan. Telur melambangkan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sementara buah-buahan adalah simbol kemakmuran, dan hiasan warna-warni merupakan wujud kemeriahan acara maulid itu sendiri.

Selain itu, telur dianggap sebagai simbol rukun Islam yang lima. Seperti diketahui bahwa telur berisi lima lapisan. Lapisan terluar adalah cangkang, melambangkan rukun ke lima yaitu ibadah haji. Kedua adalah lapisan tipis membran sebagai simbol puasa Ramadhan. Lalu putih telur melambangkan rukun zakat. Sedangkan kuning telur sebagai simbol shalat. Bagian terakhir yaitu dua titik yang berada dalam kuning telur menyimbolkan dua kalimat syahadat.

Di Kepaon, Denpasar, Bali, gunungan telur ini dinamakan Bale Suji/Bale Suci. Setelah telur diarak keliling kampung dengan iringan rebana, selanjutnya dibawa menuju masjid untuk didoakan bersama dengan harapan bisa membawa kebaikan dan keselamatan umat muslim. Setelahnya telur pun dibagi merata ke masyarakat sekitar.

Selain di Bali, perayaan serupa juga digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, mereka menyebutnya Endhogan. Sementara di Sulawesi Selatan masyarakat Kabupaten Takalar menamainya dengan istilah Maudu Lompoa. Bahkan di Papua ada Festival Bakul Telur untuk memeriahkan acara maulid.

Tak jarang, warga berebutan telur perayaan maulid karena meyakininya mengandung berkah.

5. Ngidak Endhog


Dalam prosesi pernikahan adat jawa dikenal ritual wiji dadi atau ngidak endhog (di Sunda dinamakan nincak endog) yaitu setelah proses ijab kabul pengantin pria menginjak telur ayam hingga pecah kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita dengan air bunga. Proses ini melambangkan sang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan istri yang taat melayani suaminya.

Telur adalah lambang dari segala awal kehidupan dan simbol kesuburan. Dipercaya bila telur yang diinjak dalam acara itu pecah, maka pengantin akan segera mendapatkan keturunan. Sementara mencuci kaki melambangkan penyucian diri dari segala hal negatif.

Namun, ritual itu kini sedikit mengalami pergeseran makna, banyak orang percaya jika telur yang pecah tadi di makan oleh seorang perawan maka ia akan mudah menemukan jodohnya. Biasanya, telur bahkan telah dipesan sebelum prosesi wiji dadi dilakukan.

Demikianlah beberapa khurafat yang ada dalam masyarakat. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita menjauhi amalan-amalan yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Wallahu a'lam bish-shawab.


Follow twitter @fadhlihsan untuk mendapatkan update artikel blog ini.



Baca juga:

1 komentar:

  1. makin keren aja blognya nih, gak dipasangi iklan google adsense aja? Bisa dapet gede tuh kalo main adsense

    BalasHapus