mau ngiklan disini? klik gambar ini..

Senin, 27 Februari 2012

Papanya Tak Pernah Shalat

sajadah


Ibrahim At-Taimi mengungkapkan: "Bila engkau melihat seseorang meremehkan Takbiratul Ula dalam shalat, cuci tanganlah dari perbuatanmya..."

Bagi orang asing, negeri kami terlihat penuh kedamaian. Padahal, aku sedang berlari dan terus berusaha melupakannya.

Di sebuah kebun belakang rumah, seorang wanita tetanggaku menanyaiku (tentang agama): "Apakah anda orang Islam?" Aku menjawab: "Kami semua muslim." Kuucapkan itu dengan tergesa-gesa. Karena aku malu, dan khawatir kalau ia bertanya lebih banyak lagi.

Di sini, kami adalah kumpulan manusia yang terasing. Tidak kenal tidak pernah tahu seorangpun. Kami pernah mendengar bahwa ada masjid di desa kami, bahkan juga melihat menaranya bila kami melewatinya. Tetapi tidak pernah masuk. Sampai-sampai dalam hari raya Ied, kami juga tidak datang kesana.

Hari-hari kami bercampur aduk dengan hari-hari mereka, yakni orang-orang kafir. Hari-hari raya kami juga saling bercampur aduk. Dengan kata lain, kami disebut sebagai muslim, dalam KTP saja. Shalat tidak, beribadahpun tidak. Tidak ada sesuatu yang menampakkan ke-Islaman di rumah kami, selain sajadah shalat yang digantungkan di ruang tamu...

Bersama berlalunya waktu, suamiku ingin mengadakan perubahan. Bagaimana kami menjalani hidup? Suamiku adalah orang bisnis dan disiplin. Ia suka sekali bekerja, dan mati-matian dalam belajarnya...

Ia menyusupkan birokrasi formalnya ke dalam rumah tangga dan di dalam pergaulan kami. Ia ingin, semuanya dilakukan tepat pada waktunya. Sehingga tidak ada satu menit pun yang terbuang.

Adapun anakku, tidak memiliki jatah apa-apa untuk namanya. Ia tidak mengenal Islam sedikitpun. Bahkan ia tidak kenal, sampai dua kalimat syahadat sekalipun. Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu? Tidak pernah terdengar di rumah kami...

Kami memasukkan ke sekolah bersama anak-anak tetangga kami. Kami meninggalkan madrasah khusus untuk anak-anak kaum muslimin. Tidak ada lagi waktu suami yang tersisa. Kami bertekad agar anak kami mempelajari bahasa Inggris, meskipun ia masih kecil. Banyak menonton televisi dan video, bermain bersama anak-anak tetangga. Demikian yang kami usahakan terhadap dirinya...

Hubungan kami dengan kalangan pelajar (muslim) terputus. Bahkan hubungan kami dengan negeri kami pun terputus... Terkadang ada telepon yang mengabarkan kepada kami bahwa si Fulan meninggal dunia, atau kerabat kami menikah. Di negeri asing ini, aku mengemban tanggung jawab terhadap segala sesuatu...

Membeli segala kebutuhan, sampai mengoreksi faktur. Kehidupan di tempat asing ini sedikit terobati dengan adanya anakku, penghibur kami ketika pulang kerja. Keinginanku untuk mengunjungi keluarga, tidak terbatas lagi. Akan tetapi?

Terjadilah percakapan panjang dari orang tua suamiku. Ia bersikeras agar kami mengunjungi mereka musim panas ini. Semakin panjang pembicaraan itu, aku semakin gembira. Karena aku tahu, orang tuanya amat berhasrat untuk berjumpa. Setelah mengemukakan berbagai alasan mentah, akhirnya suamiku berkata kepada ayahnya: "Mereka berkunjung tanpa aku? Aku sibuk sekali...."

Setelah suamiku meletakkan gagang telepon, aku menunggunya mengucapkan sesuatu. Namun tampaknya ia tegang sekali... Setelah diam sejenak, ia berkata: "Ayahku ingin sekali kita berkunjung, tetapi aku tidak bisa pergi. Waktu kita akan habis untuk pulang pergi saja." Aku berkata: "Sudah dua tahun kita tidak pergi ke sana." "Kalau begitu, kalian yang pergi saja..."

Aku pun memesan tiket dan menyiapkan koperku. Aku akan pergi meninggalkan kotaku menuju ibu kota. Aku akan singgah di situ selama tiga hari, aku perlu membeli banyak hadiah... Di perjalanan, anakku terlihat gembira sekali.

Kita akan mengunjungi Fulan dan Fulan. Aku menghitung banyak sekali nama-nama. Semuanya tidak ada yang kulupakan.

Ketika kami masuk kota, anakku menanyakan tentang mereka. Aku bilang: "Bukan sekarang, nanti tiga hari lagi."

Di kota ini, aku teringat dengan negeriku. Turis di mana-mana. Warna cokelat terlihat di wajah mereka. Abaya (baju kurung) dijual di pasar-pasar. Aku sangat gembira karena merasa sudah dekat dengan tanah airku...

Kami makin mendekati... Satu atau dua hari, kami tinggal di kota itu. Pada hari yang terakhir kami ada di sini, setelah selesai membeli segala keperluan kami, aku pergi bersama anakku ke sebuah taman. Ada bebek dekat sekali. Merpati juga seakan menyentuh tangan kami... Ada orang di mana-mana, ada juga anak-anak kecil yang bermain bergembira ria...

Anakku mulai melempar sisa-sisa makanan ke arah bebek tadi, hingga mereka mendekat. Di atas kursi, aku duduk seorang diri. Di sampingku, ada seorang anak kecil berbicara dengan anakku. Begitu cepatnya mereka kenal? Itu karena kejernihan hati mereka..

Aku memanggil nama anakku. Namun yang datang justru ibu dari anak yang berbicara dengan anakku. Ia memberi salam, dan menyambutku dengan hangat. "Anda juga turis sepertiku?" tanyanya. "Tidak. Aku akan pulang meninggalkan kota ini." jawabku dengan penuh kegembiraan. Seperti juga anak anak kecil, aku juga ingin ada orang yang berbicara denganku. Aku memuji tempat itu dan juga anak-anak yang bergembira ria di situ.

Ia mengajakku untuk minum teh bersamanya... Di tengah tanah yang hijau, tersedia teh dan kopi. Wanita itu memperkenalkan: "Ini ibuku, ini saudariku, dan yang itu istri saudaraku..." Masya Allah, satu keluarga lengkap. Saya merasa senang berbicara dengan mereka..

Tiba-tiba datang seseorang dari jauh. Mereka semua memandang kepadanya dan mengajaknya bercanda. Ia datang, dengan tongkat di tangannya. "Nah, ini ayah kami!" Ia mengucap salam, namun ia tetap saja berdiri lalu berkata dengan keras: "Kita tidak mendengar adzan dan iqamah.." Ia mendoakan agar negeri kaum muslimin sebagai negeri kebaikan dan negeri shalat..

Mereka memanggil si Fulan. Salah seorang dari wanita itu memanggil dua anak kecil yang ada. Adapun anakku, dengan cepat berlari dan duduk di sampingku. Sementara anak kecil yang lain, mungkin sudah terbiasa, langsung membentangkan sajadah. Berdiri di samping dan langsung bertakbir untuk shalat.

Mata anakku melotot melihat pemandangan. Ketika anak itu ruku', lalu sujud dan berdiri lagi, anakku berteriak gembira: "Ia shalat seperti Papa Abdul Aziz!"

Ibu anak itu bertanya kepadaku: "Masya Allah, ayahnya bernama Abdul Aziz?" Aku menjauhkan mukaku darinya sambil menyembunyikan mataku. Aku menyandarkan kepala anakku di dadaku. "Betapa besarnya dosa yang engkau lakukan?" gumamku. Aku menganggukkan kepala, ketika wanita itu mengulang pertanyaannya.

Apa yang sedang menimpaku? Hatiku terasa bergetar dan diremas-remas. Ia belum pernah melihat ayahnya shalat sekalipun. Abdul Aziz adalah kakeknya.

Aku merasa wanita itu mengetahui hal itu. Aku berusaha menguasai diriku sendiri... Aku bangkit berdiri. Aku membawa kedukaanku selama dua tahun yang lalu... Aku meninggalkan dia dengan penuh kesedihan. Aku berkata sendiri: "Anakku belum pernah melihat ayahnya shalat sama sekali.." Seolah wanita itu turut mengulang kata-kata itu bersamaku. "Yang dia lihat adalah kakeknya. Yang dia lihat adalah kakeknya.." Ketika masuk kamar hotel, aku berwudhu dan shalat.

Di akhir sore, di rumah orang tuaku...

Kegembiraan terhadap tanah airku tidak meninggalkan makna apa-apa. Semenjak aku sampai, tidak pernah hilang dari pendengaranku suara anakku kemarin..

"Saya akan katakan kepadamu kejadian nyata yang kualami." Engkau adalah saudariku. "Tenangkan hatimu..." ujarnya.

Persoalannya tidak sebagaimana yang engkau bayangkan. Tetapi jauh lebih besar dari yang engkau bayangkan. Aku menangis, dan kuceritakan kepadanya apa yang sebenarnya ada pada kami. Air mataku tak terbendung lagi.

Ia berkata dengan sendu: "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un.."

Ia mendekati anakku dan mengelus kepalanya sambil berkata: "Batasan antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir."

Ini adalah hadits Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

Apakah engkau menerima bila dikatakan kafir? Apakah engkau menerima dinikahi oleh orang kafir? Apa engkau mau menerima?

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 97-103.

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar